Pendidikan
Beranda » Kurikulum Baru Persis: Beradab dalam Karakter, Kritis dalam Berpikir, Tangguh dalam Berdakwah

Kurikulum Baru Persis: Beradab dalam Karakter, Kritis dalam Berpikir, Tangguh dalam Berdakwah

Oleh: Hilman, S.Pd.I., M.M.Pd
Ketua Bidgar Pendidikan PC PERSIS Karangtengah

Perubahan zaman tidak pernah menunggu kesiapan manusia. Ia bergerak cepat, melampaui batas-batas yang pernah kita bayangkan. Revolusi digital, kecerdasan buatan, disrupsi informasi, hingga perubahan sosial yang begitu dinamis telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berpikir, dan berinteraksi. Dalam situasi seperti ini, lembaga pendidikan tidak cukup hanya menjadi tempat transfer pengetahuan. Pendidikan harus menjadi ruang pembentukan manusia yang utuh; manusia yang memiliki akar nilai yang kuat sekaligus sayap yang mampu membawanya terbang tinggi menghadapi masa depan.

Di titik inilah Kurikulum Baru Persis menemukan relevansinya.

Kurikulum ini lahir bukan sekadar sebagai perubahan administratif atau penyempurnaan dokumen pembelajaran. Ia hadir sebagai jawaban atas kebutuhan zaman dan sekaligus sebagai ikhtiar menjaga kemurnian identitas gerakan Persatuan Islam dalam membangun generasi muslim yang unggul.

Persis memahami bahwa tantangan terbesar umat hari ini bukan semata-mata krisis ekonomi atau krisis politik, melainkan krisis manusia. Banyak orang pintar tetapi kehilangan adab. Banyak yang menguasai teknologi tetapi kehilangan arah hidup. Banyak yang memiliki informasi melimpah tetapi miskin hikmah.

Bidgar Pendidikan PD Persis Garut Rampungkan TOT Kurikulum Khas, Siap Terapkan di Tahun Ajaran Baru

Karena itu, Kurikulum Baru Persis dibangun di atas tiga pilar utama: Beradab dalam Karakter, Kritis dalam Berpikir, dan Tangguh dalam Berdakwah.

Beradab dalam Karakter

Peradaban besar selalu dibangun oleh manusia-manusia berkarakter. Ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa adab akan melahirkan kezaliman. Teknologi tanpa adab akan melahirkan kerusakan.

Islam sejak awal telah menempatkan pembentukan akhlak sebagai inti pendidikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Maka, peserta didik Persis tidak cukup hanya menjadi siswa yang cerdas secara akademik. Mereka harus menjadi pribadi yang memiliki integritas, tanggung jawab, kejujuran, disiplin, kepedulian sosial, serta kesadaran spiritual yang mendalam.

Karakter bukan diajarkan melalui ceramah semata, melainkan dibentuk melalui keteladanan, budaya sekolah, pembiasaan ibadah, dan pengalaman hidup sehari-hari. Karena sejatinya pendidikan adalah proses menghadirkan nilai menjadi perilaku.

Kritis dalam Berpikir

Dunia modern adalah dunia yang penuh informasi. Ironisnya, melimpahnya informasi tidak selalu melahirkan kebenaran. Banyak orang mengetahui banyak hal, tetapi tidak mampu membedakan mana fakta dan mana manipulasi.

Karena itu, generasi muslim masa depan harus memiliki kemampuan berpikir kritis.

Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia menggunakan akal:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tidakkah kalian berpikir?”

Berpikir kritis bukan berarti gemar membantah. Berpikir kritis adalah kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan argumentasi yang benar.

Kurikulum Baru Persis ingin melahirkan generasi yang mampu membaca realitas dengan tajam, memahami persoalan dengan mendalam, dan menawarkan solusi dengan bijaksana. Generasi yang tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terseret arus opini, dan tidak menjadi korban manipulasi informasi.

Umat ini membutuhkan kader yang mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Laman: 1 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement